Thursday, May 31, 2012

Soegija The Movie

Tanggal 7 Juni ini, bakal rilis sebuah film karya Garin Nugroho berjudul Soegija. Film ini diangkat dari kisah hidup seorang uskup pribumi pertama di Indonesia. Meskipun bercerita tentang uskup, dan tentunya bakal ada beberapa unsur Katolik di dalamnya, film ini bukan film yang terbatas ditonton untuk kalangan Katolik aja loh.. Siapapun boleh nonton, karena sesungguhnya isu yang diangkat di film ini isu kemanusiaan, dan kepemimpinan. jadi kalau ada yang anggap film ini tujuannya Kristenisasi.. hooo itu otaknya dicuci dulu ya.. oke oke..


Mari kenalan dulu sama Romo Kanjeng :
Monseigneur Albertus Soegijapranata SJ., atau lebih dikenal dengan Soegija. Lahir 25 November 1896 di Kampung Kepatihan Meten Surakarta. Putra kelima dari perkawinan Karjasoedarma dan Soepijah. Mereka adalah abdi dalem Kraton Surakarta.
Dari Surakarta, keluarga Karjasoedarmo pun pindah tempat tinggal ke Wirogunan, Yogyakarta. Soegija kecil sekolah di Sekolah Rakyat di Ngabean. Pindah lagi ke Sekolah Rakyat Pakualaman. Lalu pindah lagi ke HIS Wirogunan. Di HIS Wirogunan inilah, Soegija mengenal Rm F van Lith SJ., yang datang ke Yogyakarta untuk mencari murid yang mau melanjutkan sekolah di Muntilan.
Tahun 1909, Soegija masuk sekolah di Muntilan. Dan, pada 24 Desember 1909 Soegija dibaptis dengan nama permandian Albertus. Tahun 1910, Soegija melanjutkan sekolah di Kweekschool voor Javaanse Onderwijneers, sekolah ini baru saja dibuka waktu itu.
Soegija lulus ujian penghabisan di Kweekschool dan diangkat menjadi guru di sekolah tersebut pada tahun 1915. Setelah menjadi guru, tahun 1916, Soegija menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang imam.
Tahun 1919, Soegija Berangkat ke Belanda untuk belajar di Gymnasium, Leiden yang diasuh para imam ordo Salib Suci. Setahun berikutnya, tahun 1920, masuk Novisiat Serikat Jesus di Mariendaal, setelah ada ijin khusus dari pembesar Serikat Jesus, karena Soegija menjadi katolik setelah dewasa.
27 September 1922, Soegija mengucapkan Triprasetya dalam Serikat Yesus. Seusai belajar filsafat di Berchmans College, Ondenbosch, Fr. Soegija pulang ke Indonesia dan ditugaskan sebagai guru di Muntilan tahun 1923. Selama di Muntilan ini Fr. Soegija juga aktif di bidang pers sebagai redaktur majalah mingguan Katolik berbahasa Jawa, Swara Tama. Tahun 1928, Berangkatlah Soegija ke Belanda untuk belajar teologi di Maastricht. Setahun kemudian, tahun 1929, untuk pertama kalinya pergi ke Roma menghadap Paus Pius XI bersama-sama dengan empat orang Jesuit dari Asia lainnya. Pada tanggal 25 dan 26 Mei 1931, Soegija resmi menerima tahbisan subdiakonat dan diakonat di Maastricht.
Seperti yang sudah aku bilang di atas, film ini karya Garin Nugroho, jadi jelas Sutradaranya Garin Nugroho.. Produser Eksekutifnya Y.I. Iswarahadi SJ. Produser ada 3 orang, Djaduk Ferianto (Kertaradjasa di Film Petualangan Sherina), Murti Hadi Wijayanto SJ, dan Tri Giovanni. Sedangkan pemainnya ada Nirwan Dewanto, Annisa Hertami Kusumastuti, Butet Kertaradjasa (kenal dong sama seniman yang satu ini), Olga Lidya (ini juga pasti kenal lah ya), Wouter Braff, dan Wouter Zweers.

Film ini ingin melukiskan kisah-kisah kemanusiaan di masa perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Adalah Soegija (diperankan Nirwan Dewanto) yang diangkat menjadi uskup pribumi dalam Gereja Katolik Indonesia. Baginya kemanusiaan itu satu, kendati berbeda bangsa, asal-usul, dan ragamnya.
Dan perang adalah kisah terpecahnya keluarga besar manusia. Ketika Jepang datang ke Indonesia (1942), Mariyem ( Annisa Hertami) terpisah dari Maryono (Abe), kakaknya. Ling Ling (Andrea Reva) terpisah dari ibunya (Olga Lydia).
Tampaknya keterpisahan itu tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjajah, tetapi juga oleh para penjajah. Nobuzuki (Suzuki), seorang tentara Jepang dan penganut Budhist, ia tidak pernah tega terhadap anak-anak, karena ia juga punya anak di Jepang. Robert ( Wouter Zweers), seorang tentara Belanda yang selalu merasa jadi mesin perang yang hebat, akhirnya juga disentuh hatinya oleh bayi tak berdosa yang ia temukan di medan perang. Ia pun rindu pulang, ia rindu Ibunya.
Di tengah perang pun Hendrick (Wouter Braaf) menemukan cintanya yang tetap tak mampu ia miliki karena perang. Soegija ingin menyatukan kembali kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian.
Trailernya :


Oh iya, syuting film ini semua dilakukan di Semarang. Menurut cerita dari salah satu anak kos eyang yang asalnya dari Semarang, untuk set Gereja, itu Gereja yang dipakai Gereja Katedral Semarang. Dan biar berasa  aura jaman dulunya, itu Gereja lantainya diset selayaknya Gereja jaman dulu, lantainya dilapisi tanah lagi.. 

Nonton yuuuuuukkk~~ untuk informasi lebih jelas bisa ke website resmi film ini : http://www.soegijathemovie.com, kalau mau liat harga tiket dan ada di bioskop mana aja, bisa cek di sini : http://www.soegijathemovie.com/daftarbioskop.html

12 comments:

  1. yah saya juga menunggu pelem ini wakakakaka :)

    ReplyDelete
  2. nunggu ditayangin di tivi aja deh.... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih lama banget deh.. hahaha..
      di tangerang ada di 3 bioskop kok, karawaci, LW, sm Serpong :D

      Delete
  3. Aku kepengen nonton iniiii~ hihi.
    Penasaran banget :D

    ReplyDelete
  4. waw liat dr trailernya bagus juga ya kayaknya.. mari kita nonton ^^

    ReplyDelete
  5. Kayaknya bagus. Film Indonesia yg bermutu lagi nih.. :)

    ReplyDelete
  6. Ini film Indonesia kedua yg ingin aku tonton (for now).
    film pertamanya? Arisan!2 :D

    *haregene blom nonton Arisan???*

    ReplyDelete
  7. walau di garap bagus dgn uang umat yg banyak dari yg q lihat, ne film sangat lucu trend tokoh2 terlintas da untuk apa muatan politis agama kristen diantara mayoritas napa gk seperti film india yg melihatkan hindu vs muslim, film thailand/malaysia melayu vs thai.
    clu mau berkelas buat film indo tentang pembantain2 muslim siapa pelakuna ????

    ReplyDelete